Kekecewaan ini membuat mereka akhirnya memutuskan untuk tetap berangkat secara mandiri dengan kendaraan pribadi. Kondisi sistem pendaftaran yang cepat habis menjadi kendala utama bagi para pekerja yang sibuk.
“Mudik pakai motor lebih simpel dan murah saja. Saya daftar untuk program mudik bareng ga pernah dapet,” ucap Yudi salah satu pemudik yang dijumpai di area istirahat di salah satu Posko Mudik daerah Semarang.
Yudi mengaku sudah mencoba mendaftar sejak jauh-jauh hari namun slot selalu penuh dalam hitungan menit. Alhasil, ia memilih untuk menyiapkan motornya agar tetap prima selama menempuh perjalanan jauh ke Jawa Tengah.
Bentrok Jadwal Kerja dan Keberangkatan Mudik Bareng
Masalah lain yang muncul adalah tanggal keberangkatan program pemerintah yang biasanya kurang pas dengan jadwal kerja para perantau. Banyak dari mereka yang baru mendapatkan izin cuti justru setelah jadwal mudik gratis tersebut selesai dilaksanakan.
Kondisi ini membuat para pekerja tidak memiliki pilihan lain selain memacu kendaraan sendiri di luar jadwal resmi. Mereka terpaksa menembus kemacetan demi bisa merayakan lebaran tepat waktu bersama keluarga besar di rumah.
“Saya sudah daftar program mudik bareng, cuma jadwal keberangkatan enggak pas dengan jadwal kerja saya. Jadi jadwal pas keberangkatannya, saya belum dapat cuti. Jadi ya terpaksa mudik pakai motor sama anak dan istri,” papar Ridwan yang akan mudik ke Rembang.
Ridwan menjelaskan bahwa koordinasi antara waktu libur kantor dan jadwal angkutan gratis seringkali tidak sejalan. Baginya, keselamatan tetap nomor satu meskipun harus menempuh ratusan kilometer dengan motor kesayangannya.






