Salah satu pola pikir yang paling keliru dan sering memicu kecelakaan maut adalah anggapan bahwa “jalan sepi berarti boleh gas pol”. Jusri menekankan bahwa saat kita merasa jalanan sedang sepi, besar kemungkinan pengguna jalan lain juga berpikiran hal yang sama sehingga kewaspadaan menurun.
Jalan raya adalah ruang publik di mana selalu ada kemungkinan munculnya pengguna lain dari titik yang tidak terlihat. Bisa saja ada orang atau kendaraan lain yang tiba-tiba menyeberang dari balik objek yang menghalangi pandangan saat kita sedang asyik memacu kecepatan.
Kondisi aspal yang terlihat mulus pun sebenarnya belum tentu sepenuhnya aman untuk dipacu dengan kecepatan tinggi. Selalu ada risiko hidden hazard atau bahaya tersembunyi seperti lubang kecil, pasir, atau tumpahan oli yang bisa berakibat fatal jika dihantam dalam kecepatan tinggi.
Oleh karena itu, kewaspadaan tidak boleh kendur sedikit pun terlepas dari kondisi lalu lintas yang terlihat lengang atau padat. Menjaga kecepatan tetap stabil dan sesuai aturan adalah langkah paling bijak untuk menghindari situasi yang tidak diinginkan di jalanan.
Menanggapi Kasus Kecelakaan Juragan Rokok HS
Terkait kecelakaan yang menimpa Juragan Rokok HS, Jusri melihat perlunya evaluasi mendalam mengenai cara kita berinteraksi di persimpangan jalan. Persimpangan seperti lokasi kejadian di Temon merupakan titik konflik tinggi yang memerlukan tingkat kehati-hatian ekstra dari setiap pengendara.






