“Secara prinsip, alat Oktis-2 ini tidak terlalu stabil atau akurat,” ujar Dr. Tri Yuswidjajanto Zaenuri.
Ia menjelaskan bahwa Oktis-2 disetting menggunakan acuan standar Rusia atau Eropa (PYC), yang secara teknis mirip dengan standar RON di Indonesia. Alat ini juga mendukung pengukuran dengan standar Amerika (AKI), namun hasilnya berbeda karena AKI merupakan rata-rata dari MON (Motor Octane Number) dan RON.
Proses Pengukuran dan Analisis
Pengujian dilakukan dengan mencelupkan pipa sensor alat ke dalam cairan bahan bakar. Alat kemudian membaca sifat dielektrik dari senyawa tersebut, yang dikorelasikan dengan nilai RON. Pengambilan data dilakukan sebanyak tiga kali per sampel.
Menariknya, semua angka hasil pengukuran menunjukkan nilai RON di atas klaim produsen. Namun, Dr. Tri menegaskan bahwa metode ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.
“Pengujian RON BBM yang sesungguhnya harus dilakukan dengan CFR engine pada kecepatan 600 RPM. Karena RON sejati menunjukkan ketahanan bahan bakar terhadap detonasi, yakni pembakaran spontan pada tekanan dan suhu tinggi,” tambahnya.
Pengujian RON BBM dengan CFR Engine
Sebagai pembanding, dilakukan juga pengujian sampel bahan bakar serupa menggunakan Coordinating Fuel Research (CFR) Engine di laboratorium independen. Prosedur ini mengacu pada standar American Society for Testing and Material (ASTM) D2699.






