Langkah kedua adalah menjaga fokus dan kewaspadaan tinggi, sebab mata harus tetap awas melihat pergerakan pejalan kaki maupun potensi bahaya tak terduga.
Langkah ketiga yang tak kalah krusial adalah menghindari kebiasaan selap-selip di celah sempit hanya demi menghemat sedikit waktu yang justru memicu risiko senggolan.
Disiplin Aturan dan Kontrol Emosi Jadi Kunci Utama
Langkah keempat yang wajib dipatuhi setiap biker adalah selalu menghormati rambu lalu lintas serta membuang jauh-jauh niat naik ke trotoar atau melawan arus.
Tindakan nekat mengambil jalan pintas ilegal jelas membahayakan dan melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, khususnya Pasal 105.
Sementara langkah kelima adalah mengontrol emosi di atas roda, karena kepala dingin membuatmu terhindar dari manuver agresif yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.
Dengan mempraktikkan kelima poin di atas secara konsisten, perjalanan yang melelahkan pun bakal terasa jauh lebih tenang dan jauh dari potensi bahaya.
“Budaya #Cari_Aman dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga jarak aman, mematuhi aturan lalu lintas, menghormati sesama pengguna jalan, serta mampu mengendalikan emosi. Jika kebiasaan ini dilakukan secara konsisten, bukan hanya perjalanan menjadi lebih nyaman, tetapi juga mampu menekan risiko kecelakaan dan menciptakan lalu lintas yang lebih tertib bagi semua,” tutup Agus Sani.
Melalui komitmen edukasi keselamatan yang intensif ke sekolah, perusahaan, hingga komunitas, WMS terus berupaya menyebarkan semangat #Cari_Aman di jalanan.
Harapannya, budaya tertib lalu lintas ini bukan sekadar slogan semata, melainkan jadi kesadaran kolektif demi keselamatan kita bersama.



